Add new comment
Katekisasi Bahasa Indonesia di Singapura
Katekisasi atau RCIA (Rite of Christian Initiation for Adults),
Salah satu tantangan bagi kami sebagai umat Katolik yang sudah menerima Sakramen Krisma adalah ikut terlibat dalam pewartaan Kabar Gembira Keselamatan yang diberikan oleh Allah kepada semua orang, melalui hidup-sengsara-wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, serta bimbingan dan perlindungan dari Roh Kudus - Roh Kristus yang bangkit. Setiap akhir Misa Kudus, kita senantiasa diberi perintah untuk mewartakan kabar gembira (evangelisasi) ini kepada setiap orang yang kita jumpai dalam hidup kita.
Pada tahun 2002, secara pribadi saya merasa mendapat panggilan dan sekaligus tantangan untuk melakukan evangelisasi melalui bimbingan RCIA-bahasa Indonesia, yang merupakan program resmi dari Gereja Katolik di seluruh dunia bagi orang-orang dewasa yang ingin mengetahui iman Katolik dan ajaran-ajaran Gereja Katolik. Yang diharapkan pada akhirnya adalah orang tersebut memutuskan sendiri secara bebas untuk dibaptis secara Katolik dan menjadi anggota dari Gereja Katolik, Tubuh Mistik Kristus itu sendiri. Pada mulanya, saya juga sangat segan untuk membuat komitmen sebagai pembimbing RCIA ini, sebab harus betul-betul siap untuk membimbing selama setahun. Setelah melalui doa dan penelitian batin yang cukup lama, akhirnya saya menanggapi panggilan dan tantangan untuk melakukan evangelisasi melalui program RCIA ini, dengan mengandalkan rahmat Allah menjadi satu-satunya sumber kekuatan dan perlindungan bagi kami.
Sampai sekarang, program RCIA telah berjalan kurang lebih 11 tahun dan memiliki team kerabat kerja sebanyak 6 orang dengan pembimbing rohani Romo Willem Langenhuijsen SS CC.
Semoga karya evangelisasi RCIA-bahasa Indonesia yang sangat sederhana ini berkenan dihadapan Allah dan kemuliaan Allah makin menjadi nyata dalam hidup serta perkembangan Gereja, Tubuh Mistik Kristus.
Syalom, Adi Surya. Pembimbing RCIA
Kami sangat bersyukur bisa bergabung dalam kelas RCIA/Katekumen gereja di St. Bernadette tahun 2009/10.
Selama setahun dalam bimbingan kelas RCIA, kami bisa merasakan bahwa pemahaman kami mengenai ajaran agama Katolik semakin dalam. Selain itu kami juga melihat betapa tekun dan setianya para pembimbing yang mau hadir setiap minggu membantu dan mengajar kami menuju pembaptisan. Untuk itu, secara khusus kami mau mengucapkan terima kasih kepada Pastor William, F.X. Adi Surya, Agnes Surya, Niko, Hendro, Stephanus dan Elvina. Berkat bimbingan kalian akhirnya kami bisa dibaptis pada Sabtu, Malam Paskah tanggal 3 April 2010.
Salam kasih,
Pasangan: Hilary Sumardi Soemartopo dan Clare Siandari Tjiuw Peserta RCIA
Sharing Perjalanan Iman Awal mulanya, satu tahun terasa amat panjang. Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti. Saat-saat yang paling sulit adalah ketika Oma tersayang meninggal dunia. Sungguh percobaan yang paling sulit, tidak hanya karena kami kehilangan dia, tetapi karena saya mau tidak mau harus meminta ijin untuk 49 hari tidak hadir dalam kelas RCIA. Hampir saja saya menyerah untuk melanjutkan kelas. Namun saya teringat ucapan Pak Adi bahwa menjadi Katolik tidak akan menjamin hidup akan selalu mulus. Percobaan dan gangguan-gangguan lain pasti akan selalu ada untuk mencobai kekuatan iman kita. Kelas pun saya tetap lanjutkan, termasuk menghadiri juga kelas-kelas pengganti. Tidak terasa tibalah waktunya pembaptisan. Well, the joy is…immeasurable. All sacrifices are worth it and well with the new friends and the jokes in between, a year is not that long after all….! Terlupakan jasa para pembimbing yang telah menemani perjalanan kami selama satu tahun ini. Terima kasih semuanya. (Pastor Willem, Pak Adi, Tante Agnes, Ko Stephanus, Ci Elvina, Ko Nico, dan Pak Hendro) Love you always!
God Bless You!
Aurelia Alne Alkata Peserta RCIA
Sebelum ikut kelas katekumen, ketika masih di Indonesia saya sudah sering ikut misa. Pada waktu itu saya belum punya keberanian untuk dibaptis karena paman saya dan tante-tante saya tidak menyetujuinya. Sampai akhirnya saya pindah ke Singapura, saya menghadapi berbagai macam masalah secara bersamaan: menjadi pengangguran (sementara biaya hidup di sini tinggi), menghadapi masalah relasi dengan pacar nun jauh di sana, dan merasa sangat rindu dengan suasana rumah (maklum, karena baru sekali ini jauh dari orang tua). Entah mengapa saya mendapat ilham untuk menghubungi Tante Agnes sepulang dari misa KKIS untuk mendaftar kelas katekumen (RCIA). Setiap minggu mengikuti kelas itu, saya merasa ada kekuatan ekstra untuk menjalani hidup sehari-hari. Saya jarang mengeluh lagi dan yang paling terasa, saya berani memutuskan untuk dibaptis, bahkan saya berani ketika harus beradu argumen dengan keluarga mama saya. And Here I am, ini saya, sudah resmi dibaptis, meski harus bersembunyi-sembunyi. Terima kasih untuk semua pengurus KKIS yang telah mengijinkan saya untuk dibaptis secara terpisah. “Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup mulus tanpa batu dan kerikil, tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk menghadapainya, karena Ia selalu beserta kita.”
Tuhan memberkati
Maria Silvia Megahsari Peserta RCIA