(Keluarga Katolik Indonesia di Singapura)
1 Chatsworth Road, #02-23 Chatsworth Court, Singapore 249745
 

Home

About Us

Jadwal Misa KKIS

PD Galilea

PD Efata!

Mudika KKIS

Legio Maria

Online Pojok


Legio Maria

Presidium Legio Maria yang pertama dibentuk pada tanggal 7 September 1921 di Dublin, Irlandia, oleh Frank Duff bersama-sama dengan sekelompok wanita Katolik dan Pater Michael Toher, Uskup Agung Dublin. ‘Legio’ sendiri diambil dari nama pasukan Romawi kuno yang terkenal akan kedisiplinan dan kepatuhannya di dalam perjuangan mereka untuk menaklukkan dunia. Legio Maria dengan begitu dapat disamakan dengan tentara-tentara Maria, di mana Maria menduduki kursi panglimanya. Dengan membawa panji Maria dan dengan restu Gereja, legioner menggabungkan diri di dalam pertempuran abadi antara Gereja melawan kekuatan jahat dunia, untuk membawa kasih cinta Allah dan mendirikan kerajaan Allah di dunia. Tujuan Legio Maria adalah kemuliaan Allah yang dicapai dengan pengudusan para anggotanya melalui doa dan kerjasama yang aktif di bawah bimbingan Gereja, menuruti teladan dan karya Maria.

Legio Maria KKIS bermula dari kerinduan akan doa dan pelayanan dari dua orang veteran Legioner yang gagah berani dan luar biasa semangat bertempurnya: Sunny dan Virtus. Dibekali pengalaman dan pelayanan nyata sebagai legioner di Indonesia sebelum ke Singapura, mereka memelopori pendirian Legio Maria berbahasa Indonesia di bawah KKIS, dengan tujuan melayani orang-orang Indonesia di Singapura. Setelah pengajuan gagasan dan permintaan ijin, rapat pertama Presidium Bunda Rahmat Ilahi (BRI), presidium pertama berbahasa Indonesia di Singapura, dilangsungkan pada tanggal 20 Agustus 2000 dan dihadiri oleh hampir 10 orang. Sejak awal, rapat telah berjalan tertib dan serius, berkat kesenioran dan semangat unik perwira-perwira pertamanya (Sunny, Virtus, Grace, dan Evelyn) yang awalnya merangkap sebagai perwira ‘sementara’ (namun ternyata bertugas ‘selamanya’). Minggu demi minggu, anggota datang dan pergi. Berangsur-angsur terbentuk sekumpulan anggota tetap yang kualitas dan pengabdiannya terhadap legio benar-benar tulus dan tak tergoyahkan. Dan sungguh luar biasa karena kumpulan inti ini terus berkembang jumlahnya dari bulan ke bulan.

Sekitar akhir tahun 2001, anggota aktif BRI telah tercatat 25 orang lebih, dan rapat mingguan berlangsung sampai lebih dari 2 jam, jauh diatas 1,5 jam yang dianjurkan. Meskipun anggota-anggota BRI sudah erat (seperti super glue itu lho!) dan sangat kompak, para perwira memberanikan diri untuk memekarkan BRI menjadi 2 presidium berdasarkan daerah pelayanan, West dan East. Lahirlah presidium baru Bunda Pengasih (BP) untuk melayani daerah East, sementara BRI mengambil fokus pelayanan untuk daerah West. Rapat pertama BP dilangsungkan pada tanggal 2 Desember 2001.

Janji Legio

Sampai saat ini, jumlah anggota seperti gelombang yang naik turun. Kerap kali terasa bahwa rintangan yang harus dihadapi adalah diri sendiri. Sebagai legioner, ada saat-saat di mana kita bersemangat untuk doa dan dalam tugas pelayanan kita, serperti berdoa harian dan Rosario, serta mengunjungi mereka yang sakit, lumpuh, maupun papa. Namun sangatlah mungkin semua tugas-tugas menjadi rutinitas yang monoton dan sekedar menjadi kewajiban semata. Rintangan dalam pelayananpun acapkali ditemui. Rasa canggung mendapati ketika kita berada diantara para oma-opa di St Joseph. Tidak tahu dari mana harus memulai percakapan, apalagi kebanyakan hanya mengerti Teochew, Hokkien, atau Mandarin. Demikian pula ketika mengunjungi para cacat mental.

Di lain pihak, sangat sering kita merasakan, terutama saat mengunjungi orang-orang Indonesia yang tengah berobat di Singapura, penerimaan dan kegembiraan mereka atas kehadiran kita-kita yang sesama satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa (merdeka!). Kegembiraan mereka merupakan berkah buat kita semua, menjadi kebanggaan karena kita merasa ikut berperan, walaupun sedikit, di dalam penghiburan mereka. Hal semacam inilah yang terus mendorong para legioner untuk terus berkarya di dalam pelayanan, biarpun terkadang harus siap menghadapi berbagai reaksi, bahkan penolakan.

Selain tugas pelayanan, Legio tak lupa pula mengadakan kegiatan keakraban untuk mempererat tali persaudaraan dan menghidupkan semangat pelayanan, contohnya: dalam rangka ulang tahun BRI, para legioner BRI dan BP pergi ke Seletar Reservoir dan mengadakan rapat gabungan di sana, diteruskan dengan makan siang, dan diakhiri dengan permainan Berpacu Dalam Melodi.


Retret Legio 2005
Retret Legio 2005

Bagaimana perkembangan Legio selanjutnya? Pertanyaan yang sulit dijawab. Tapi menurut Grace, mantan ketua BP dan sekretaris pertama BRI, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk Legio kita ini. BRI dan BP mempunyai dasar yang bagus, kokoh dan mampu bertahan. Kita yakin bahwa kita akan tetap maju terus, berpegang erat, dan mengabdi pada panji Santa Maria. Hingga seperti yang dikatakan, legio kami setelah perjuangan hidup ini, tanpa kehilangan seorang pun, berkumpul kembali dalam kerajaan dan keluhuranMu. Amin? Amin.


  • Presidium Bunda Rahmat Ilahi (BRI)
    Classroom 9, Church of St Bernadette
    Setiap Hari Minggu, jam 13.00.

    Kontak :
        Sebastianus Waryanto (Wary) - 9276 5905
        Andy Tanzil - 8121 8143



  • Presidium Bunda Pengasih (BP)
    Classroom 1, Church of St Bernadette
    Setiap Hari Minggu, jam 11.30.

    Kontak :
        Johanes D.S. - 9828 0286
        Karel Dipa Herwono (Karel) - 9362 1976



  • Presidium Tahta Kebijaksanaan (TK)
    St. Claire room 4, Church of St Mary of The Angels
    Setiap Hari Minggu, jam 13.00.

    Kontak :
        Vinsensius B Vega (Vega) - 9142 2498
        Beatrik Messah (Bea) - 9299 8654




 
 
Keluarga Katolik Indonesia di Singapura (KKIS)
Copyright © 2006-2007 KKIS.media - All Rights Reserved