Legio Maria
Presidium Legio Maria yang pertama dibentuk pada tanggal 7 September
1921 di Dublin, Irlandia, oleh Frank Duff bersama-sama dengan sekelompok
wanita Katolik dan Pater Michael Toher, Uskup Agung Dublin. ‘Legio’
sendiri diambil dari nama pasukan Romawi kuno yang terkenal akan kedisiplinan
dan kepatuhannya di dalam perjuangan mereka untuk menaklukkan dunia.
Legio Maria dengan begitu dapat disamakan dengan tentara-tentara Maria,
di mana Maria menduduki kursi panglimanya. Dengan membawa panji Maria
dan dengan restu Gereja, legioner menggabungkan diri di dalam pertempuran
abadi antara Gereja melawan kekuatan jahat dunia, untuk membawa kasih
cinta Allah dan mendirikan kerajaan Allah di dunia. Tujuan Legio Maria
adalah kemuliaan Allah yang dicapai dengan pengudusan para anggotanya
melalui doa dan kerjasama yang aktif di bawah bimbingan Gereja, menuruti
teladan dan karya Maria.
Legio Maria KKIS bermula dari kerinduan akan doa
dan pelayanan dari dua orang veteran Legioner yang gagah berani dan
luar biasa semangat bertempurnya: Sunny dan Virtus. Dibekali pengalaman
dan pelayanan nyata sebagai legioner di Indonesia sebelum ke Singapura,
mereka memelopori pendirian Legio Maria berbahasa Indonesia di bawah
KKIS, dengan tujuan melayani orang-orang Indonesia di Singapura. Setelah
pengajuan gagasan dan permintaan ijin, rapat pertama Presidium Bunda
Rahmat Ilahi (BRI), presidium pertama berbahasa Indonesia di Singapura,
dilangsungkan pada tanggal 20 Agustus 2000 dan dihadiri oleh hampir
10 orang. Sejak awal, rapat telah berjalan tertib dan serius, berkat
kesenioran dan semangat unik perwira-perwira pertamanya (Sunny, Virtus,
Grace, dan Evelyn) yang awalnya merangkap sebagai perwira ‘sementara’
(namun ternyata bertugas ‘selamanya’). Minggu demi minggu, anggota datang
dan pergi. Berangsur-angsur terbentuk sekumpulan anggota tetap yang
kualitas dan pengabdiannya terhadap legio benar-benar tulus dan tak
tergoyahkan. Dan sungguh luar biasa karena kumpulan inti ini terus berkembang
jumlahnya dari bulan ke bulan.
Sekitar akhir tahun 2001, anggota aktif BRI telah
tercatat 25 orang lebih, dan rapat mingguan berlangsung sampai lebih
dari 2 jam, jauh diatas 1,5 jam yang dianjurkan. Meskipun anggota-anggota
BRI sudah erat (seperti super glue itu lho!) dan sangat kompak, para
perwira memberanikan diri untuk memekarkan BRI menjadi 2 presidium berdasarkan
daerah pelayanan, West dan East. Lahirlah presidium baru Bunda Pengasih
(BP) untuk melayani daerah East, sementara BRI mengambil fokus pelayanan
untuk daerah West. Rapat pertama BP dilangsungkan pada tanggal 2 Desember
2001.
 |
|
Sampai saat ini, jumlah anggota seperti gelombang
yang naik turun. Kerap kali terasa bahwa rintangan yang harus dihadapi
adalah diri sendiri. Sebagai legioner, ada saat-saat di mana kita bersemangat
untuk doa dan dalam tugas pelayanan kita, serperti berdoa harian dan
Rosario, serta mengunjungi mereka yang sakit, lumpuh, maupun papa. Namun
sangatlah mungkin semua tugas-tugas menjadi rutinitas yang monoton dan
sekedar menjadi kewajiban semata. Rintangan dalam pelayananpun acapkali
ditemui. Rasa canggung mendapati ketika kita berada diantara para oma-opa
di St Joseph. Tidak tahu dari mana harus memulai percakapan, apalagi
kebanyakan hanya mengerti Teochew, Hokkien, atau Mandarin. Demikian
pula ketika mengunjungi para cacat mental.
Di lain pihak, sangat sering kita merasakan, terutama
saat mengunjungi orang-orang Indonesia yang tengah berobat di Singapura,
penerimaan dan kegembiraan mereka atas kehadiran kita-kita yang sesama
satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa (merdeka!). Kegembiraan mereka
merupakan berkah buat kita semua, menjadi kebanggaan karena kita merasa
ikut berperan, walaupun sedikit, di dalam penghiburan mereka. Hal semacam
inilah yang terus mendorong para legioner untuk terus berkarya di dalam
pelayanan, biarpun terkadang harus siap menghadapi berbagai reaksi,
bahkan penolakan.
Selain tugas pelayanan, Legio tak lupa pula mengadakan
kegiatan keakraban untuk mempererat tali persaudaraan dan menghidupkan
semangat pelayanan, contohnya: dalam rangka ulang tahun BRI, para legioner
BRI dan BP pergi ke Seletar Reservoir dan mengadakan rapat gabungan
di sana, diteruskan dengan makan siang, dan diakhiri dengan permainan
Berpacu Dalam Melodi.
 |
Retret Legio 2005 |
Bagaimana perkembangan Legio selanjutnya? Pertanyaan
yang sulit dijawab. Tapi menurut Grace, mantan ketua BP dan sekretaris
pertama BRI, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk Legio kita ini.
BRI dan BP mempunyai dasar yang bagus, kokoh dan mampu bertahan. Kita
yakin bahwa kita akan tetap maju terus, berpegang erat, dan mengabdi
pada panji Santa Maria. Hingga seperti yang dikatakan, legio kami setelah
perjuangan hidup ini, tanpa kehilangan seorang pun, berkumpul kembali
dalam kerajaan dan keluhuranMu. Amin? Amin.
-
Presidium Bunda Rahmat Ilahi (BRI)
Classroom 9, Church of St Bernadette
Setiap Hari Minggu, jam 13.00.
Kontak :
Sebastianus Waryanto (Wary) - 9276 5905
Andy Tanzil - 8121 8143
-
Presidium Bunda Pengasih (BP)
Classroom 1, Church of St Bernadette
Setiap Hari Minggu, jam 11.30.
Kontak :
Johanes D.S. - 9828 0286
Karel Dipa Herwono (Karel) - 9362 1976
-
Presidium Tahta Kebijaksanaan (TK)
St. Claire room 4, Church of St Mary of The Angels
Setiap Hari Minggu, jam 13.00.
Kontak :
Vinsensius B Vega (Vega) - 9142 2498
Beatrik Messah (Bea) - 9299 8654